Menyambut malam Nisfu Sya’ban adalah momentum bagi kita untuk menengok ke dalam diri. Selama satu tahun penuh, dari Januari hingga Desember, dari bergantinya angka kalender masehi, sering kali kita sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa mengevaluasi perjalanan iman dan akhlak kita.
Dalam kalender Hijriyah, waktu juga terus berputar dari Muharram hingga Zulhijjah, dua belas bulan yang menjadi saksi amal perbuatan kita. Muharram mengajarkan hijrah dan awal yang bersih, Safar hingga Jumadil melatih kesabaran, Rajab menjadi bulan persiapan ruhani—Rajab bukanlah Allah, tetapi bulan yang dimuliakan untuk memperbaiki diri. Lalu datang Ramadan, bulan umat Nabi Muhammad ﷺ, bulan penuh ampunan dan rahmat. Hingga akhirnya kita menutup tahun dengan Zulhijjah, bulan pengorbanan dan keikhlasan.
Di antara semua itu, ada satu malam istimewa, yaitu malam Nisfu Sya’ban, malam di mana doa-doa diijabah dan ampunan Allah terbuka luas. Pada malam ini, Allah memberikan rahmat-Nya kepada hamba-hamba yang memohon ampun dan ingin kembali kepada-Nya.
Namun, ada dua perkara yang menjadi penghalang ampunan: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua. Maka Nisfu Sya’ban mengingatkan kita untuk membersihkan tauhid, meluruskan niat, serta memperbaiki hubungan dengan kedua orang tua sebelum mengharap ampunan dan keberkahan.
Mari jadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai titik balik. Menutup satu tahun dengan muhasabah, membuka lembaran baru dengan tekad memperbaiki diri, agar bulan-bulan yang akan datang—baik Januari hingga Desember, maupun Muharram hingga Zulhijjah—dipenuhi amal yang diridhai Allah سبحانه وتعالى.
